Kopi Robusta Lampung Warisan Budaya Terseksi di Pasar Ekspor

161

Bicara kopi adalah soal selera. Bukan hanya soal selera rasa menikmatinya, sekaligus juga tempat saat menyeruputnya. Ya, menikmati kopi kini sudah  mencirikan gaya hidup penikmatnya. Namun, tak bisa juga  dijustifikasi  kopi A lebih berkelas, kopi B kampung. Atau kopi C cita rasanya mantap, kopi D kurang. Hmm..kembali soal selera, sebatas mana lidahmu bersensasi menikmati tegukan demi tegukan kopi. Bagi penikmat kopi, seteguk kopi, bisa memberikan gairah tersendiri yang menggetarkan energi sehingga lebih produktif. Bagaimana dengan kamu ?

Ngobrolin selera, kami ingin meyuguhkan selera kopi Robusta. Mengapa Robusta ? Dan mengapa Lampung ? Hmm…simple saja. Penghasil kopi Robusta terbesar di tanah air adalah Lampung. Perkebunannya membentang seluas 163.837 hektar, dengan jumlah produksi rata-rata sekuat 100 -120 ribu ton. Dari jumlah sebesar itu,85 persennya mengisi pasar dunia.

Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo pun kini giat mempromosikan Lampung sebagai destinasi kopi termasyur. Ya, Lampung harus bangga, karena daerahnya merupakan penghasil Robusta dengan kualitas terbaik.. Apalagi, Robusta Indonesia sudah diperhitungkan di dunia. Menurut,  Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Lampung, Toni Tobing, di dunia hanya 3 negara penghasil Robusta  yaitu Indonesia, Vietnam dan Brazil. Yang lainnya ada, tapi tidak begitu signifikan, diantaranya Kongo, Kamerun, Srilanka, Madagacar, Angola, Nigeria dan Uganda. Makanya nih, banyak daerah lain kini ikut membudidayakan Robusta Lampung, sebut saja, Sulawesi Tengah, tepatnya di wilayah Poso dan Sigi.
Menengok kilasan sejarahnya, pada jaman penjajahan Belanda, di Lampung konon banyak ditanam Kopi Arabika. Namun dalam perkembangannya, rupanya Belanda ingin lebih memvariasikan tanaman kopi. Tau sendiri kan ya, bercocok tanam rentan sekali dengan pengaruh cuaca, hama, kondisi tanah, dan sebagainya yang mempengaruhi kualitas biji dan cita rasa. Karena itu, Belanda mencoba membawa Kopi Robusta ke Lampung. Kopi Robusta sendiri ditemukan di Kongo pada tahun 1898.

Alhasil ternyata biji Robusta cocok ditanam di Lampung, khususnya di daerah yang berdataran tinggi sekitar 2000 meter dpl, seperti di Lampung Tengah dan Lampung Barat. Yang terbanyak dibudidayakan di daerah Lampung Barat, seperti Liwa, Waytenong, Sekincau, Fajar Bula, Way Kanan, Tenggamus dan  Air Hitam. Robusta juga tidak begitu repot ditanam. Ia bisa tumbuh subur di dataran rendah 200 meter dpl. Bijinya pun lebih tahan terhadap penyakit dan bisa dipanen beberapa kali dalam setahun. Umumnya tiga kali dalam setahun. Aromanya mirip coklat jika diseduh dalam air yang mendidih. Rasanya memang lebih kuat.Tak heran, jika Robusta populer digunakan sebagai blend yang kawin dengan kopi lain. Dan, kabar menggembirakan juga nih, kalau saat ini biji kopi Robusta bisa diracik single dan bercita rasa spesial, Fine Robusta, populernya sekarang.

Eksistensi Robusta, pun kita makin diapresiasi. Tak lagi sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga berperan strategis dalam menggerakan sistem kemasyarakatan dan budaya. Tahun 2015, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, telah menetapkan Robusta Lampung sebagai salah satu warisan budaya. Wahh tambah mantap nih…**

Comments
Loading...