Ferry Ardianto, Menangkap Rasa dalam Lensa Kamera

0 127

Ada foto yang baik, ada foto yang bagus. Sebenarnya apa sih yang membedakan dari keduanya itu? Sepintas kita pasti akan berpikir sama, namun Ferry Ardianto, fotografer yang telah 33 tahun berkarir di dunianya, berkata lain.

Baginya sebuah foto yang bagus bisa dilakukan oleh siapa saja, terlebih lagi kemajuan teknologi saat ini. Melalui kamera hanphone pun, foto dapat menjadi bagus dengan kecanggihan fitur atau aplikasi editing dalam ponsel.

Pria kelahiran Jakarta, tahun 1957, kerap dipanggil Om Ferry oleh juniornya atau murid-muridnya mulai menekuni bidang fotografi dengan serius setelah lulus dari Universitas Padjajaran, 1983. Ia juga salah satu pendiri Asosiasi Pemotret Profesional Indonesia (APPI, 1989). Kali pertama mengadakan pameran foto pada tahun 1991, hingga kini Ia telah 5 kali menggelar pamerannya.

Ia dikenal sebagai fotografer komersil yang karya-karyanya memiliki cerita. Menurutnya, foto yang baik itu dapat menggugah rasa, menggetarkan, yang hidup bercerita,  dan mampu menyampaikan pesan. Beliau memang ahli dalam hal ini, wajar bila ia gemar memotret orang-orang dengan profesi atau karakternya, peristiwa, dan yang telah membuat karirnya bertahan sampai saat ini: foto komersil.

Metode foto komersil  yang digunakannya untuk menuangkan konsep dan imajinasi ialah “Still Life Media Photography”. Semua yang tidak hidup dibuat menjadi hidup. Fotografi objek benda yang mementingkan pencahayaan dan framing untuk kedalaman komposisi susunan elemen desain.

Media fotografi dimanfaatkan untuk bisa menyampaikan pesan, cerita, pikiran, bahkan isu yang sedang terjadi. Jika dulu ia terikat dengan profesinya, ia memanfaatkan apa yang ada pada profesinya yang pekerjaannya banyak dilakukan di studio.

Dari awal profesi, Ferry Ardianto sudah dilatih menyampaikan pesan dari produsen ke konsumennya. Yang dikerjakannya seperti bagaimana makanan terlihat nikmat atau sehat, bagaimana memvisualisasikan barang yang mahal hingga foto menjadi mewah, dan lainnya.

Foto komersil memang akrab dengannya sejak kecil, Ayahnya, Bapak Nuradi, seorang praktisi periklanan ternama yang dikenal sebagai “Founding Father of Indonesia’s Advertising” karena kontribusinya di dunia periklanan Indonesia. Ferry sendiri memulai karirnya dengan bergabung pada salah satu perusahaan iklan terbesar di Jakarta saat itu, PT. Inter Vista.

Saat ini, selain kesibukan pada berbagai sesi pemotretan, ia menyalurkan passion-nya sebagai pengajar fotografi fakultas seni Trisakti, Universitas Pasundan, dan instruktur di Darwis Triadi Sekolah Fotografi dan Nikon School Indonesia.

Satu lagi yang menjadi ‘gizi’ kehidupannya, yaitu traveling. Melalui traveling, ia bisa membagikan ilmu fotografi  dan pengalamannnya kepada masyarakat di beberapa kota Indonesia. Jika dulu waktunya banyak tersita di studio, kini beliau mulai sering menjelajah Indonesia.

Ferry sadar betul bahwa di luar sana, banyak keindahan dan hal yang menakjubkan yang bisa diceritakan atau diperkenalkan pada orang banyak. Tentang suatu daerah, sumber daya alam atau peristiwa/momen yang mungkin orang lain belum mengetahuinya. Saat menjelajah Indonesia, tidak sedikit Ferry Ardianto menemukan pemandangan alam yang indah, hal spiritual sampai orang-orang hebat. Secara personal, Ferry lebih memilih keindahan alam hanya untuk dinikmati saja.

Menurutnya, setiap fotografer yang keluar dari comfort zone-nya, ketika berada di luar, pasti menemukan atau mengeksplore sesuatu hal unik, menarik, dan berbeda. Tidak berbeda dengan dirinya yang dulu terus-menerus berada di dalam studio, saat ke luar melihat Indonesia, hidup jadi lebih indah dan sederhana.

Mendengar ceritanya, tidak heran Ferry Adrianto selalu menekankan tentang rasa saat pengambilan gambar maupun pada murid-muridnya. Lebih baik mengasah rasa daripada mempelajari teknik, sebab rasa maupun pikiran itu tidak bisa ditiru orang. Bukankah setiap momen adalah rasa?**

Comments

Loading...